Mengajar itu…

“Mr. Agung, kapan kita belajarnya?” Kalimat itu yang beberapa hari ini saya dengar dari para murid yang cukup membuat saya telinga saya tergelitik.

Mengajar menurut apa yang sudah saya pelajari adalah proses penyampaian atau transfer ilmu yang kita peoleh kepada siapra pun yang kita ajar. namun, seiring perkembangan zaman, istilah ‘mengajar’ dibah menjadi ‘membelajarkan’ atau proses membuat siapa pun yang kita ajar mau dan mampu belajar dengan sendirinya. Kalau dulu sebatas menyampaikan ilmu ke peserta didik sekarang berkembang menjadi bagaimana guru harus mampu membuat peserta didik belajar dengan kemampuan mereka sendiri.
Lain halnya dengan belajar. Belajar merupakan suatu proses yang panjang untuk mengubah dari apa yang belum bisa menjadi bisa. Belajar adalah suatu proses yang membutuhkan usaha yang dari si pebelajar.
Dulu yang dinamakan mengajar berarti menerangkan berceramah tentang suatu topik di mana sang guru lah yang paling banyak berperan dan belajar berarti duduk tenang mendengarkan guru berceramah atau menjelaskan sesuatu.
Tampaknya hal tersebut masih banyak terjadi di kelas, bahkan di kelas saya sendiri. Padahal, cara tersebut sudah ditinggalkan oleh pengajar di negara maju. Guru menagajar tidak hanya dengan cara berceramah saja, tetapi menggunakan banyak cara.
Tidak hanya guru yang masih berpikiran demikian, para peserta didik pun juga demikian. yang dinamakan belajar berarti duduk diam dan menunggu perintah guru untuk melakukan segala sesuatu. Padahal mereka bisa belajar dengan berbagai cara sesuai dengan gaya belajar mereka masing-masing.
Hal tersebut yang terjadi di kelas yang baru beberapa pertemuan saya ajar. bisa jadi sebelumnya mereka hanaya belajar denagn cara tersebut, yaitu mendengarkan ceramah dan menunggu inisiatif guru untuk melakukan segala sesuatu.
Sejak dari greeting hingga ada pertanyaan dari salah satu siswa “Mr. Agung, kapan kita belajarnya?” sebenarnya mereka telah belajar. Namun merekatidak menyadarinya. Mungkin dalam pikiran mereka, belajar berarti duduk tenang mendengarkan ceramah guru atau pun duduk tenang mereka mencatat atau mengerjakan tugas dari guru atau LKS.
Padahal sekarang banyak metode mengajar yang baru di mana siswa menjadi pusat kegiatan (student centred) sehingga peran guru bukan mendominasi proses pembelajaran tetapi justru peserta didiklah yang menjadi pusat proses pembelajaran. Siswa dituntut untuk lebih aktif sedangkan guru hanya sebagai motivator atau pun fasilitator proses pembelajaran.

Advertisements

~ by agungsulis13 on August 28, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: